Fenomena Banjir Di Jakarta : Musibah Vs Adzab

This slideshow requires JavaScript.

Banyak yang mengatakan bahwa Banjir di Jakarta merupakan kutukan yang harus ditanggung oleh masyarakat ibu kota. Betapa tidak, pembangunan Jakarta yang tak terkontrol dan tata kota yang jauh dari ideal mengakibatkanbanjir di Jakarta saban tahun. Semua pihak bukannya mencari solusi yang tepat, tetapi malahan sibuk mencari “kambing hitam” siapa yang paling berdosa yang menyebabkan bah.

 

Banjir di Jakarta menjadi lagu lama yang tiap tahun diputar lagi. Malahan Banjir di Jakarta bukannya kian surut, melainkan menjadi bencana progresif. Artinya, intensitas banjir dan area banjir di Jakarta kian meluas. Tak hanya satu wilayah saja yang terkena air bah, dahulu sebuah wilayah tak pernah kena banjir sekarang menjadi langganan Banjir di Jakarta tiap tahunnya. Itulah karakter bencana ekologi yang tiap tahun intensitasnya menjadi bertambah luas.

Pembangunan Masiv Menjadi Penyebab Utama Banjir di Jakarta

 

Dari semua penyebab banjir di Jakarta, laju pembangunan yang tak dikendalikan dan tak mengindahkan blue print adalah penyebab utamanya. Bayangkan total mal yang berdiri di Jakarta sebanyak 175 unit, belum lagi pembangunan apartemen dan kawasan industri lainnya.

 

Jakarta sekarang ibarat rimba beton yang saling berjejalan ditambah lagi kepadatan penduduk yang kian bertambah tanpa ada usaha merelokasi. Ini diyakini menjadi penyebab kuaalitas hidup di Jakarta menjadi menurun. Ini adalah tugas berat pemerintah daerah dan diyakini pemerintah daerah Jakarta pun tak bisa menyelesaikan sendiri tanpa ada dukungan dari pemerintah pusat.

 

Penyelesaian banjir di Jakarta adalah pekerjaan kelompok dari tiga provinsi, yakni DKI, Provinsi Tangerang, dan Jawa Barat. Ketiga pemerintah daerah tersebut dituntut mencariformula yang tepat menyelasaikan masalah banjir di Jakarta.

Banjir di Jakarta Bagian dari Panggung Politik

 

Parahnya banjir di Jakarta bukannya dicari solosinya, malahan dijadikan jargon politikus untuk mencari simpati. Calon-calon gubernur menggarap banjir di Jakarta menjadi sebuah harapan politik yang realisasinya jauh dari ekspetasi publik. Lihat saja setiap ada banjir di Jakarta, politikus dan pejabat berlomba-lomba cari muka di depan korbanbencana sambil menyumbang tentu dengan tendensi tertentu.

 

Kampanye model ini bukanlah contoh sosialisasi yang baik. Caripopularitas di tengah banjir di Jakarta. Banjir di Jakarta dijadikan klausul dalam kontrak politik jika dia terpilih. Ternyata merealisasikan janji sangatlah berat. Ketika sang pemimpin ditagih janjinya, jawabanya hanya mengelak terus dengan fakta yang dibulat-bulatkan.

Masyarakat sudah bosan dengan janji-janji politikus tentang bencana banjir di Jakarta dan apatis dengan keadaan seperti ini. Orang Jakarta sudah banyak dibebani berbagai masalah lain. Banjir merupakan salah satu momok yang merusak kualitas hidup di Jakarta.

Pengaruh dan Dampak Banjir di Jakarta

 

Berikut ini merupakan deretan imbas negatif dari banjir di Jakarta yang tiap tahun menghantui kehidupan penduduk di Jakarta. Mimpi buruk ini mampu melenyapkan harta dan nyawa siapa saja yang rumahnya terendam banjir.

 

• Ekonomi. Salah satu kerugian dari banjir di Jakarta adalah kerugian finansial. Ketika banjir menggenang di Jakarta, dipastikan sendi-sendi perekonomian lumpuh. Jalur transportasi darat terbenam air bah sehingga mengganggu pasokan sembako dan merusak infrastruktur perekonomian di Jakarta. Tragisnya, kerugian yang sama selalu berulang-ulang setiap tahun gara-gara banjir. Jika dibiarkan berlarut-larut, Jakarta akan ditinggalkaninvestor asing karena bancana alam menjadi kendala besar bagi kehidupan bisnisnya.

 

• Psikologi. Gangguan psikologis merupakan salah satudampak banjir di Jakarta yang terasa bagi masyarakat di daerah langganan banjir. Orang akan cepat stres kalau setiap tahun terkena banjir. Tingkat stresnya lebih tinggi daripada penduduk di luar Jakarta. Tapi sayangnnya pemerintah tak pernah membantu masalah pemulihan psikologibagi orang yang terkena bencana. Bentuk pertolongan seperti konseling psikologi dan pendekatan agama pun sangat penting membantu memulihkan mental dan spiritual korban para bencana.

Pekerjaan rumah pemerintah Kota Jakarta belumlah usai. Banyak sekali masalah lain di luar banjir di Jakarta yang belum terselesaikan dengan benar. Mari kita benahi ibu kota Indonesia agar tak ada lagi berita banjir di Jakarta.

Penyebab Banjir Di jakarta

 

Banjir di Jakarta merupakan dampak dari akumulasi yang parah. Walaupun penyebab utama banjir di Jakarta sudah diketahui, ternyata belum ada satu solusi dan cara yang bisa mengendalikan banjir di Jakarta yang tiap tahun pasti datang.

1.Rusaknya Tata Kota

 

Gencarnya pembangunan gedung-gedung bertingkat, seperti apartemen, mal dan sebagainya merupakan salah satu penyebab terjadinya banjir di Jakarta. Pembangunan kota yang tak mengindahkan blue print danpemerintah daerah tak berdaya mengatur lajupembangunan gedung komersial menjadi penyebab rusaknya lingkungan hidup di ibu kota Indonesia.

 

Harusnya pemerintah daerah tegas melarang sebuah wilayah untuk dijadikan area komersial, tetapi kenyataan berbeda. Entah bagaimana caranya kok ada pemodal kuat yang membangun wilayahlarangan membangun gedung. Apa pun alasanya, pengembangan seperti itu menyalahi tata ruang kota.

2. Rusaknya Penghijauan di Hilir

 

Rupanya yang rusak tak hanya di wilayah Jakarta saja, daerah-daerah hilir seperti Puncak, Cianjur, dan Bogor pun kondisinya sangat memprihatinkan. Daerah dataran tinggi dan hutan-hutannya banyak dibabat diubah menjadi lahan pertanian dan vila-vila. Padahal daerah tersebut merupakan penyangga ibukota agar tak banjir. Sekarang ini jika daerah hilir hujan deras, pasti terjadi banjir di Jakarta. Air bah kiriman datang tiba-tiba hingga menggenangi bantaran sungai di Jakarta.

3.Tergusurnya Situ dan Resapan Air

 

Fungsi utama situ yang ada di Jakarta adalah sebagai penampungan air hujan. Dahulu, Belanda membangun banyak sekali situ-situ. Karena kontur tanah Batavia sama seperti di Belanda, yakni permukaan air laut lebih tinggi dari daratan sehingga ketika hujan turun pasti banjir. Oleh karena itu, insinyur Belanda dahulu membangun kanal-kanal dan situ guna mengendalikan air hujan dan air rob agar tak banjir.

 

Namun sayangnya sekarang situ-situ itu sudah banyak yang diuruk untuk dijadikan perumahan maupun gedung bertingkat. Akhirnya tak ada tempat lagi untuk menampung limbasan air hujan. Akhirnya bisa ditebak banjir menjadi langganan di tempat tersebut.

4. Perilaku Buruk Masyarakat

 

Jakarta itu menjadi kampung raksasa, sedangkan sungai di Jakarta dijuluki sebagai WC terpanjang di dunia. Perilaku penduduk yang tinggal di bantaran sungai menjadi salah satu biang keladi rusaknya kondisi sungai di Jakarta. Mengapa begitu? Ya, perilaku membuang sampah sembarangan di sungai turut menyebabkan bencanaekologi di Jakarta.

 

Ribuan ton sampah ditumpahkan di sungai oleh “penduduk kampung” di Jakarta. Walaupun tinggalnya di kota metropolis, ternyata perilakunya sangat kampungan. Hilangnya kesadaraan menjaga lingkungan memperburuk wajah kota.

 

Sebenarnya penyebab utama banjir di Jakarta bukan sepenuhnyafaktor alam seperti itensitas hujan, melainkan manusianya sendiri. Manusia yang berulah merusaka eksosistem hutan, bukit, menggusur lahan hijau di bantaran sungai, dan lain sebagainya. Kesalahan ini sangat sistemik dan dilakukan secara turun temurun.

5. Tak Ada Kesedaran dari Pemerintah dan Masyakarat

 

Pemerintah pun menjadi salah satu penyebab kerusakanlingkungan di ibu kota sehingga menyebabkan banjir di Jakarta setiap tahunnya. Bayangkan, Kota Jakarta sebagai ibu kota Indonesia yang seharusnya ditata dengan baik ternyata dicoret dengan wajah bopeng oleh kebijakan ngawur yang dikeluarkan pejabat daerah.

Pemangku negara ini dengan mudahnya memberi izinpembangunan gedung-gedung komersial di sembarang tempat. Penggusuran tempat-tempat resapan begitu saja mudahnya tanpa memedulikan akibatnya kelak. Pemerintah tak bisa mengelak dari kesalahan yang dia lakukan. Bentuk tanggung jawabnya yang pasti membatasi izin pembangunan gedung komersial, memperbanyak tempat resapan air, dan memelihara kebersihan sungai.

Banjir Jakarta : Musibah atau Adzab

 

Dari uraian panjang diatas mengenai penyebab banjir, fenomena banjir dll, dapat disimpulkan bahwa banjir ya merupakan akibat dari ulah tangan manusia itu sendiri. salah satunya karena keserekahan pemerintah jakarta yang tidak profesional dalam penataan kota. setiap kali melihat uang izin pembangunan matanya menjadi hijau, tanpa mempertimbangkan akibat dari pembangunan di lahan daerah serapan air.

 

Bagaimana menurut pendapat sahabat Blitza sekalian mengenai “Fenomena Banjir Di Jakarta”, Musibah atau Adzabkah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s